facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

✿ P U T R I K U S R Y A N T I ✿

Assalamualaikum selamat hari jumat..

Dikesempatan kali ini,aku mau share ama kalian semua kisah inspiratif dari mas "DINAR RAFIKHALIF"

dengan jelas aku tuliskan di blog ini kalau kisah ini murni aku 'curi' dari mas Dinar *maapkan mas belum sempet "nembung" buat aku copas cerita kisah hidup mas di blog aku -,-

tapi janji deh mas Dinar,niatnya aku posting itu baik kok..cuman pengen agar kisah inspiratif mas ini banyak yang baca dan banyak pula yang akhirnya tersadarkan + ngikutin kiat-kiat sukses ala mas Dinar

Btw sok kenal banget ya aku ama mas Dinar..wahhahh maapken yaa mas Dinar

Kata orang 'tak kenal maka tak sayang' so aku kenalin diri aku dulu yaa mas Dinar

Aku Putri Kusriyanti,kerjaan sehari-hari tukang 'copas',tukang galau tingkat dewa,si baper-an,si putri tidur,si jutek,si sadis dan si galak yang moodie banget,yang akhir-akhir ini butuh banyak baca kisah inspiratif buat ngerubah sifat aku  yang jelek jadi lebih baik

Dan taraaaaa kisahnya mas Dinar itu sedikit banyak udah memberi aku sedikit pencerahan,buat mulai hari aku dengan baik,buat jadi berbeda dan buat jadi gadis lebih ceria seceria mentari yang terbit pagi ini #watseehhh hihihi

ya udah dari pada kebanyakan "ngecemes" yang gak jelas..sok atuh dimulai saja



Manusia itu, dia sok pintar.

Dia sok jago matematika.

Dia menghitung-hitung.

Dia gunakan logikanya yang sudah diasahnya sedari kecil.

Hingga dihasilkan nilai-nilai yang membuatnya merasa benar.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Pernahkan Anda melihat lautan yang begitu luas? Berapa banyak air yang terhampar di belantara lautan itu?

Kemudian Anda coba masukan sebuah jari Anda kedalam air di lautan itu. Lalu Anda angkat jari Anda kembali, lihat ada beberapa air yang menetes dari jari yang diangkat. Dan sebagian ada yang masih menempel di jari Anda.

Air yang masih menempel di jari Anda itulah kita. Itulah logika kita yang kita bangga-banggakan ini. Sedangkan hamparan air di lautan sejauh mata memandang itulah “logika Allah swt”.

Logika manusia terlalu kecil dan terlalu sempit untuk memahami logika kehidupan yang ditetapkan oleh Allah yang terlampau besar. Maka kadang ada istilah “tidak masuk akal”, ya memang benar, memang akal kita ini terlalu sempit.

Banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang jelas-jelas logika kita tak akan bisa memahaminya.

Ada sebuah pengalaman yang saya buktikan sendiri bahwa memang saya ini sebagai manusia benar-benar terlalu bodoh. Saya rasakan sendiri bahwa manusia itu terlalu banyak kekurangan dan tak tau apa-apa mengenai ketetapan Allah.

Ini adalah kisah saya hidup di Ibukota, hanya dengan gaji 850ribu sebulan.

Masuk di akal? Jelas tidak kawan.

Sebelumnya mari kita hitung bersama berapa besar pengeluaran rutin saya tiap bulannya.

- Kos 1 bulan = 500.000

- Makan 1 hari 20.000 (ini sudah menu superhemat) x 30 hari = 600.000

- Transpot 2 kali busway 7000 x 30 hari = 210.000

- Total pengeluaran = 500.000 + 600.000 + 210.000 = 1.310.000

- Gaji anak magang = 850.000

Baru untuk 3 item saja duit saya harus sudah nombok 1.310.000 – 850.000 = 460.000

Memangnya saya mandi gak pake sabun? Saya ga kepingin gosok gigi pake odol? Ga pingin minum air? Ga pingin yang lain-lain? Jelas kepingin, karena saya pun masih pingin hidup. Jadi masih ada biaya lain yang dikeluarkan untuk keperluan itu.

Sebelum saya berangkat ke Jakarta, baru membayangkan angka-angka itu saja rasanya sudah stress. Mengapa tidak magang di rumah saja sih? Kan bisa lebih hemat? Gimana bisa beli barang yang dibutuhkan dengan dana sebesar itu.

Tapi kenyataannya sekarang sudah hampir 8 bulan saya hidup di Ibukota, dan saya lupa kapan terakhir kali minta uang orang tua, karena selama 8 bulan ini memang saya mencegah transfer dana dari orang tua.

Pengalaman ini yang ingin saya bagikan, mudah-mudahan bisa menginspirasi.

Ini adalah masalah mindset kawan,

Saya adalah seorang laki-laki. Beberapa tahun lagi tanggung jawab saya bukan lagi menghidupi diri saya sendiri, tapi juga menghidupi anak orang, alias menikah, punya istri, nanti lama-lama punya anak. Kalau saya tidak latihan dari sekarang untuk menyetop uluran dana dari orang tua, saya akan kaget ketika besok saya menikah dan berhadapan dengan kebutuhan yang berkali kali lipat besarnya. Ini mindset pertama kali saya tiba di Jakarta.

Bagaimana menjadi sosok kepala keluarga yang bisa diandalkan? Jawabannya adalah dia yang memahami agama, karena agama adalah segalanya. Dia adalah alasan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Saya ini anak nakal, bukan seperti ustad yang sholeh, rambut saya gondrong, bukan seperti PNS, tapi saya berusaha ingin menjadi pemimpin keluarga yang baik. Maka saya dengarkanlah ceramah-ceramah keagamaan. Berhubung dulu saya ini orangnya malas datang ke kajian, saya download saja video-video ceramah dan motivasi dari internet. Apalagi provider internet sedang berlomba-lomba pasang kuota besar-besaran. 5GB per bulan akan sangat mubadzir kalo tidak dimanfaatkan secara optimal. Maka tiap malam saya download video tausiah itu, ditinggal tidur, lalu paginya saya putar. Itu rutinitas saya setiap hari di awal magang. Ingat, setiap hari lo. Setiap pagi saya dengerin pengajian sebelum berangkat ke kantor. Hingga sekarang mungkin koleksi video saya sudah lebih dari 10GB.

Ada satu poin yang saya garis bawahi pada beberapa video tersebut:

Ilmu investasi memang banyak diajarkan dimana-mana. Bagaimana kita mengelola modal dengan optimal, sehingga menghasilkan benefid. Tapi kebanyakan hanya mengajarkan bagaimana cara menanamkan modal, menilai risiko, dan saving untuk keperluan mendesak. Ada satu hal yang terlewatkan dari pelajaran ilmu investasi, padahal justru ini adalah yang paling utama. Ilmu itu adalah ilmu sedekah. Sedekah adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Investasi paling aman adalah sedekah, karena ini adalah janji Allah, bukan janji manusia. Setiap harta yang disedekahkan maka dia akan kembali lagi sebesar 10 kali lipatnya.

Saya dapat ilmu itu dari Mas Ippho Santosa.

Masuk di logika? Jelas tidak...

Kalau di logika kita, 10 – 1 = 9

Tapi kalau logika Allah, 10 – 1 = 19. Kita punya duit 10 disedekahkan 1, maka 1 akan kembali menjadi 10. Maka total duit kita menjadi 19.

Jadi misalnya kita punya duit hanya 10.000, tapi saya ingin membeli barang atau hajad yang senilai 50.000. Maka kita perlu sedekah 5000. Karena 5000 x 10 = 50.000 plus sisa uang kita 5000 = 55.000.

Itu matematika sedekah yang saya dapet ilmunya dari Ust. Yusuf Mansyur.

Lalu saya lihat nih gaji saya 850.000. Kebutuhan hidup saya rata-rata harusnya 1.500.000. Berarti kira-kira masih kurang 800.000 an. Berarti duit yang kudu saya sedekahkan adalah 80.000.

Berat tidak menyedekahkan nilai segitu dengan gaji segitu? Jelas berat men. Awalnya.

Tapi ada sebuah video yang saya lihat dari Ustd Felix Siauw.

Beliau berkata bahwa kebiasaan itu ibarat seperti ketika kita menginjakkan kaki kita tanpa alas kaki di hamparan lapangan yang penuh dengan rumput. Pada awalnya, kaki kita akan merasa sakit karena rumputnya masih tajam-tajam. Tapi setelah beberapa kali kita melewati rumput itu, lama-lama rasa sakit itu berkurang karena rumput yang lama-lama semakin merunduk, dan akhirnya menjadi biasa saja untuk dilewati.

Dan yang paling perlu ditekankan adalah, jangan ada alasan apapun yang membuat kita mundur ketika akan melakukan suatu kebaikan. Ketika akan sedekah, kok mendadak logika kita bicara, “kok banyak banget, tapi kan lagi butuh beli itu, gimana nanti mau beli itu?” Nah! Kata-kata semacam itulah salah satu bentuk dari lemahnya manusia. Sekali lagi, selain untuk itung-itungan pelajaran, jangan percaya dengan logika.

Maka agar tidak semakin pusing dengan banyak lagi alasan yang datang untuk menunda, sedekah saya yang pertama adalah senilai Rp 100.000 glondong yang langsung saya masukan di kotak amal masjid Istiqlal.

Pada saat itu mindset saya hanya kepingin ngetes. Apakah yang dikatakan pak ustad-ustad tadi tentang koar-koarnya khasiat sedekah itu benar atau tidak.

Nama saya Dinar. Saya sering kali mendengar di ceramah-ceramah, toko buku, atau kaligrafi-kaligrafi mengenai sebuah ayat yang bernama ayat seribu dinar. Apa nih maksudnya?

Rupanya, itu adalah ayat yang konon didapat dengan harga 1000dinar (1 dinar=2juta). Jadi 1000 x 2juta = 2M. Untuk kisah lengkapnya, saya sudah pernah posting tentang Hikayat Ayat Seribu Dinar.

Pada ayat tersebut dikatakan bahwa barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah yang memang amat sangat berat, maka Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Memang ayat seribu dinar ini kisahnya adalah kisah seorang pedagang yang sukses setelah membaca ayat ini tiap habis sholat. Jika memang benar begitu, mengapa tidak saya ikutan saja? Maka ini habit kedua yang saya lakukan sehabis sholat.

Ada dua sholat yang filosofinya sangat lucu, yaitu sholat tahajud dan duha.

Sholat Tahajud itu singkatannya Tau Tau Harta Bersujud.

Sedangkan sholat Duha itu singkatannya Doanya Pengusaha.

Hehe itu singkatan dari si otak kanan mas Ippho Santosa. Kata beliau, dua sholat itu tidak boleh kelewatan jika ingin menjadi pengusaha sukses dan kaya raya. Hmm, tidak ada salahnya untuk dicoba. Alhamdulillah sejak pertama magang sampai sekarang duha saya masih rutin terjaga sebelum mulai kerja. Malah, kalau kita merasa kita akan disibukkan oleh setumpuk kerjaan di suatu hari, maka awali hari itu dengan berduha. Maka harimu itu akan terasa lapang dan tidak diburu-buru waktu. Itu saya rasakan sendiri dengan rutinitas kehidupan yang menantang di kota Jakarta yang super padat penduduk ini.

Ada dua pengusaha yang mindsetnya selalu saya coba untuk terapkan. Dia adalah Merry Riana dan Top Ittiphad.

Merry Riana adalah entrepreneur muda yang berhasil bebas finansial dalam usia 30 tahun. Dia berhasil meraih sejuta dolar dalam usia yang masih muda, padahal sebelumnya dia punya hutang pemerintah Singapura ratusan juta.

Sedangkan Top Ittiphad adalah pengusaha rumput laut asal Thailand yang produknya bisa kita lihat sudah nongkrong di Alfamart dan Indomaret dengan label Tao Kae Noi. Dia sukses bebas finansial di usia 26 tahun, padahal sebelumnya keluarganya mempunyai hutang 4 Milyar.

Bukan masalah duitnya atau hutangnya yang saya banggakan dari mereka. Tapi masalah habitnya. Habit pengusaha adalah semakin pandai dia memanfaatkan waktu dan situasi, maka semakin suskes. Ada 2 alasan pengusaha untuk melakukan suatu hal, yaitu: apakah hal itu ada duitnya? Dan apakah hal itu ada pahalanya? Jika tidak dua-duanya, maka wajib tinggalkan!

Top Itthipad dan Merry Riana mengorbankan waktu bermain di usia muda mereka untuk bekerja. Di filmnya berjudul Top Secret, ada sebuah adegan dimana anak muda seusia Top bisa berjalan dengan santai sambil dengerin mp3, sedangkan Top harus berjalan dengan berkeringat menggendong sekarung kacang untuk berdagang.Jadi sebenarnya yang membuat seseorang kaya atau tidak itu bukan perkara kerjanya sebagai PNS atau Pengusaha, tapi masalah habitnya. Saya pernah menjelaskan secara gamblang perbedaan habit keduanya di artikel saya berjudul PNS versus Pengusaha, Mana yang Lebih Sukses.

Maka mengapa saya tidak meniru kebiasaan mereka?

Saya punya banyak koleksi film dari teman. Tapi sampai sekarang belum pernah saya tonton. Bahkan, film Dispecable Me pun saya belum nonton lo! Padahal saya punya dari yang pertama dan kedua. Karena pas saya mau nonton film itu, saya pasti kepikiran apakah ada dampak positifnya buat saya ke depan. 1. Apakah ada duitnya? 2. Apakah ada pahalanya? Memang lebay, tapi itu adalah salah satu faktor saya bisa bertahan dengan gaji 850 per bulan.

Saya ganti kegiatan saya yang harusnya bisa dipakai untuk nyantai dengan hal yang lebih bermanfaat. Karena mindset saya sebenarnya kesenangan itu akan terakumulasi. Kalau kita bersenang-senang sekarang, suatu saat nanti kita pasti akan merasa bersusah susah. Tapi kalau bersusah-susah sekarang, maka kesenangannya nanti akan menumpuk dibelakang seperti menanam benih. Dan mumpung saya masih muda, saya ingin bekerja keras dulu di usia yang muda, seperti Top dan Merry tadi. Mereka berdua rata-rata menggunakan waktu sehari untuk bekerja selama 18 jam.

Kebetulan saya gemar di bidang komputer, musik dan sastra. Maka saya mulai pontensikan kegemaran saya itu untuk menghasilkan karya yang bermanfaat. Saya mencoba menulis buku, saya mengarang lagu dan mencoba mengaransemen, saya mengikuti lomba sastra online yang iming-iming hadiahnya besar, lomba bikin puisi, lomba nulis cerpen, saya juga kadang ikut lomba kompetisi blog. Itulah hal-hal yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang saya.

Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Allah SWT amat membenci orang yang terlalu banyak makan dan terlalu banyak tidur. Dengan kata lain berarti yang sedikit makan dan sedikit tidur akan lebih disayang. Dan kalau disayang maka akan lebih sering diberi pertolongan.

Itulah alasan yang sangat kuat mengapa saya setiap makan hampir tidak pernah lauk daging. Lebih seringnya pakai lauk gorengan. Total pengeluaran makan saya sehari maksimal 20 ribu, lebih seringnya ngga sampai.

Makan ngga pakai daging, apa bisa kenyang? Tidak. Tapi justru Rasulullah menyarankan kita agar berhenti makan sebelum kenyang.

Makan ngga pakai daging, daging kan menyehatkan? Iya sehat sekarang, tapi terakumulasi sakitnya besok di usia tua. Lebih menyehatkan daun-daunan dan sayur. Ayah saya sejak kecil jarang sekali makan daging, tapi sampai usia sekarang beliau tidak pernah sakit yang aneh-aneh. Jika ada dua pilihan lauk: daging dan sayur, dan hanya boleh memilih salah satu, maka ayah akan memilih sayur. Saya lebih percaya kepada kata-kata ucapan ayah daripada kata-kata dari iklan daging olahan yang bentuknya lonjong.

Banyak yang bilang kalau nanti gajinya sudah banyak apa yo mungkin makan sesederhana itu? Jawaban saya ada di Surah At Takasur: bahwa menjadi kaya itu tidak dilarang, tapi pola hidup harus tetap sederhana.

Nabi kita Muhammad SAW kaya rayanya bukan main. Lha bayangin saja penduduk di jaman nabi itu hampir seluruhnya bahagia, padahal salah satu indikator kebahagiaan adalah tercukupinya kebutuhan. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu pakainya duit. Tidak salah lagi bahwa harta Rasulullah itulah yang selalu dibagi-bagikan kepada umatnya, hingga Beliau sendiri tidur hanya dengan pelepah kurma.

Ada sebuah kejadian di mana Rasul sedang menjadi imam sholat. Ketika selesai salam, Rasul terburu-buru pulang ke Rumah, tidak seperti biasanya Beliau yang selalu berdzikir panjang terlebih dahulu. Para sahabat pun keheranan.

Beberapa saat kemudian, Rasul kembali datang ke masjid untuk melanjutkan dzikirnya.

Setelah selesai, sahabat pun bertanya karena penasaran, apa yang menyebabkan Rasul tadi terburu-buru pulang?

Kemudian Rasul menjawab, bahwa setelah salam tadi mendadak beliau teringat bahwa di bawah alas tidurnya masih tersimpan beberapa dirham uang. Dan beliau sangat takut akan ditanya Allah mengapa Engkau masih menyimpan uang, sedangkan di luar sana banyak umatmu yang lapar. Maka beliau segera pulang mengambil uang tadi dan memberikan kepada badan, lalu kembali ke masjid lagi untuk menuntaskan dzikir. Di sini, sungguh tampak pola kesederhanaan hidup dan semangat berbagi dari beliau yang seharusnya ditiru oleh umat manusia yang kepingin sukses dunia akhirat.

Setiap hari Senin dan Kamis, saya juga upayakan untuk berpuasa. Selain untuk masalah hemat, juga karena masalah pahala.

Itulah beberapa kebiasaan yang bisa saya share.

Sedekah ditambah baca ayat seribu dinar ditambah rutin sholat duha ditambah puasa Senin Kamis ditambah memanfaatkan waktu adalah uang.

Kata banyak ustad, sedekah itu dapat memperkaya harta. Setelah saya praktekan, rupanya benar begitulah adanya! Setelah saya sedekahkan 100 ribu tadi, ada-ada saja rejeki yang datang bergantian. Bergantian lo, seperti baris ngantri untuk datang kepada saya, itu yang saya rasakan. Mulai dari dapet makan siang gratis di kantor, bahkan teman saya sampai ada yang bilang kalau sekelompok kantor dengan saya itu enak, sering dapet makan siang gratis. Saya juga bingung. Ada juga honor yang mendadak cair, honor diklat, uang perjalanan dinas, dan lain-lain.

Memang, seperti terjemahan di ayat seribu dinar yang rutin saya baca tadi, rezeki dan pertolongan Allah itu datangnya dari arah-arah yang tidak diduga. Termasuk ide-ide yang muncul di kepala ini pun juga merupakan bentuk dari rezeki Allah yang tak terduga.

Ada sebuah kisah Muhammad Al Fatih dalam menaklukan Konstantiopel, sebuah kota besar yang sudah selama 700 tahun lebih mencoba ditaklukkan oleh pasukan muslim tapi selalu berujung di kegagalan karena pertahanan kota yang luar biasa tangguhnya. Muhammad Al Fatih inilah satu-satunya yang akhirnya berhasil, bagaimana caranya? Percaya atau tidak, pasukan Al Fatih ini menumbangkan Konstantinopel dengan cara membawa kapal-kapal perang mereka berlayar bukan di atas ombak, tapi di atas gunung! Alias membawa kapal-kapalnya naik ke atas gunung untuk menyerbu Konstantinopel, karena hanya pada sisi gunung-gunung itulah pertahanan kota itu lemah.

Bukan masalah mendorong kapalnya yang luar biasa di sini. Tapi bagaimana Al Fatih bisa untuk mendapatkan ide untuk menyerang Konstantinopel dari arah gunung itulah sebuah rezeki dan rahmat dari Allah yang luar biasa. Kuncinya adalah, beliau selalu memperingatkan kepada pasukannya jangan sampai ada yang bermaksiat satu pun, karena maksiat dapat menghalangi rahmat Allah, dan beliau mengerahkan pasukannya untuk berpuasa.

Maka dari itu, kadang-kadang saya pun sering mendapat ide-ide yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Misalnya, membuka jasa edit foto. Itu ide yang menurut saya sangat konyol. Jadi ceritanya secara mendadak instansi saya meminta pas foto dengan memakai jas. Otomatis banyak anak yang tidak mungkin punya jas, apalagi untuk beli pasti mahal dengan gaj yang baru segitu. Kalau mau foto studio pun mahal bisa sampai 20 ribu. Ya saya buka jasa edit foto saja, saya pasangin jas di fotonya yang lama. Saya pasang tarif 5 ribu-10 ribu perfoto.

Memang harus ada pengorbanannya, sempat saking banyaknya orderan dan deadline saya tiap hari tidur jam 11 dan bangun jam 4. Dan selama bangun itu langsung ngedit foto lagi.

Lalu...........

Apakah dengan pola hidup seperti ini hidup saya jadi monoton dan tak ada kebahagiaan sama sekali seperti manusia normal? JELAS TIDAK.

Saya juga bermain dengan teman-teman untuk melepas penat.Saya juga masih bisa karaokean.Saya juga masih bisa makan di restoran bareng-bareng.Saya juga bisa beli pakaian dan seragam baru.

Setiap pulang ke rumah Semarang, saya justru tidak pernah naik kereta ekonomi lo, minimal bisnis, seringnya malah eksekutif yang harganya 300 ribuan karena lebih cepat sampai lebih banyak waktu bertemu orang tua. Karena orang tua adalah segalanya. Saya yakin, kesuksesan saat ini tidak akan diperoleh tanpa doa orang tua. Bisa pulang ke rumah untuk sekedar nyapu ngepel dan bantuin orang tua nyuci baju di rumah nilainya lebih baik daripada apa pun yang saya dapatkan saat ini di Jakarta.

Saya malah kadang nyuci pakaian di londrian karena terlalu capek, padahal itu bayar.

Saya masih bisa beli speaker logitech yang high quality dan DVD writer merek Samsung yang harganya selangit. Padahal saya awalnya cuma melongo melihat harga kedua barang ini yang selangit dengan status gaji 850. Beberapa minggu kemudian kok malah bisa beli dua-duanya.

Saya bahkan bisa beli gitar baru yang mirip sama gitarnya Ariel Noah.Dan sekoper buku-buku yang masih sempet saya beli.Dan masih banyak lagi.

Namun kebahagiaan yang paling besar adalah, saya memperoleh itu semua tanpa meminta uang dari orang tua. Sungguh ini merupakan pengalaman dan perjuangan yang tak terlupakan.

Saya tidak bermaksud untuk pamer. Saya hanya ingin menunjukkan bukti kebesaran Allah SWT bahwa apa saja yang dijanjikan oleh-Nya itu benar adanya, jika kita yakin dan manut. Jika Allah nyuruh kita sedekah, ya sedekah aja. Jika disuruh puasa ya puasa. Jika disuruh nggak pacaran ya jangan pacaran. Logikanya, Allah nyuruh gitu pasti Dia juga menjamin ada kesuksesan di balik itu. Kebanyakan kita itu ngeyelan, makanya hidupnya terkesan berat. Wong yang bikin hidup kita mudah itu Allah, kok malah ngeyel sama aturan Allah. Masalah ngeyel ini pernah saya bahas di postingan GregetnyaUmat Islam.

Bukti bahwa sedekah dapat melipatgandakan harta itu benar sekali. Bahkan saya sendiri saat menulis artikel ini lo masih bingung kok bisa sebegitu hebatnya yang saya peroleh ini.

Sampai saat ini, saya selalu menyisihkan 10 persen dari 850 ribu untuk disedekahkan. Entah bagaimana pun caranya pokoknya minimal 80 ribu harus habis disedekahkan dalam sebulan.

Pernah suatu ketika, sata benar-benar sedang ludes. Dompet saya isinya cuman 2 lembar: 10 ribu 1 lembar, dan 5 ribu 1 lembar. Saat itu hari Jumat, pasti ada kotak infaq yang dikelilingkan saat sholat Jumat. Berhubung sudah menjadi habit, rasanya tidak enak kalau tidak memasukkan uang ke dalamnya. Kalau saya masukin 10 ribu, berarti saya hanya punya 5 ribu. Naik busway 3.500, hanya sisa 1.500 di dalam dompet, apa nggak bahaya pergi cuman bawa uang segitu? Tapi kalau saya ngasih 5 ribu, berarti saya meremehkan sedekah, soalnya yang dipilih kok malah justru duit yang nilainya rendah. Daripada pusing, langsung saja saya masukan 10 ribunya.

Setelah sholat Jumat, saya dipanggil kepala seksi kantor, diminta untuk ke Kantor Pusat buat ngurus proyek pembuatan website kantor. Lalu dibikinin deh Surat Perjalanan Dinas (SPD). Akhirnya saya ke Kantor Pusat sekalian pulang naik taksi yang dibayarin. Habis dari kantor pusat, saya diajak mampir ke restoran, ditraktir! Sudah berapa duit itu? Lebih dari 10 ribu kan? Plus besoknya dapat uang perjalanan dinas 100 ribu. Subhanallah.

Keajaiban sedekah lainnya, saya mendadak dapat telpon dari rumah, rupanya cerpen saya yang saya ikutkan di kompetisi online masuk di juara favorit. Dapet sertifikat dan hadiah yang lumayan nilainya.

Tidak berhenti sampai di sini, sekarang pun saya sedang diminta membuat website untuk KPPN Jakarta 7. Mangapa saya yang diminta? Padahal yang lain juga bisa. Mungkin jawabannya ya karena sedekah dan amalan-amalan tadi. Padahal kata kepala kantornya, jangan kuatir nanti dibayar kok. Subhanallah, rezeki lagi, dari arah yang tidak disangka.

Dan sekarang pun saya mendadak dapet ide, mengapa saya tidak menulis buku tentang kisah saya selama 8 bulan ini saja. Karena memang masih sangat banyak hal yang tidak dapat terurai di sini. Bisa jadi rezeki lagi kan.

Maka apakah kita ini sudah pandai matematika?

Apakah nilai matematika kita di ujian nasional dulu nilainya 100?

Ternyata Allah jauh lebih pintar matematika!

Jangan percaya dengan mata kita, sebab mata hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat. Jangan percaya logika kita. Tapi percayalah kepada logika Allah. Bagaimana caranya? Allah memberi sebuah tools mahadahsyat untuk memahami logika Allah. Alat itu adalah hati. Gunakan hati sebaik-baiknya, jangan dikotori, jangan dinodai, maka insya Allah dia akan lebih mudah untuk digunakan.



Semoga bermanfaat ;)

Sumber : www.dinarmagzz.blogspot.com

well itulah dia 'kisah hidup ' dari mas Dinar yang memotiasi aku,baru tau kalau banyak juga yang mencibir 'tulisan' mas Dinar ini.Oalah mas-mas..yang sabar nggih,hidup emang selalu begitu.Kita niatnya berbuat baik (dalam hal ini berbagi kisah inspiratif) tapi hasil 'nangkep'nya orang berbeda.Ada yang nerima dan termotivasi (kaya aku hihi) ada juga yang mencibir inilah itulah..Yang 'legowo' saja yaa mas..yang penting niat kita baik dan hal itu cukup Gusti Allah aja yang tau,yang lain mah "babahin" mau komentar apa."ORA URUS"
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Selamat siang good people semua
di kesempatan kali ini aku mau share cerita kehidupan yang udah dipublish ama salah satu seniorku di sekolah.Beliau memang sering membagikan dan memposting artikel yang berkaitan dengan cerita yang mengandung nilai kehidupan disemua forum yang kebanyakan diikuti oleh anak moklet
Tujuannya yaa cuman satu,saling mengingatkan agar tak lupa akan kewajiban
Dan tak usahlah aku banyak berkata segera dibaca saja,dijamin bakalan ada nilai kehidupan yang bisa good people petik dari kisah inspiratif ini
enggak makan waktu sejam kok buat baca namun ilmu yang terkandung bisa dipakai untuk selamanya..
So happy reading yaa good people :)
"Goblok kamu ya…,” kata suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi ke kamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali-kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu di arahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus, terus. Doni menangis “Ampun, ayah.. ampun ayah..,” katanya dengan suara terisak-isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik-adikmu. Mereka semua pintar-pintar di sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi beban adik adik kamu ya… heh,“ kata suamiku dengan suara terengah-engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di kursi. Matanya kosong memandang ke arah Doni dan kemudian melirik ke arahku, “kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat rapor sekolahnya buruk. Dengar itu.“ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk ke kamar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi dimaki-maki dan dimarahi di depan adik-adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat, “Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok yang rajin ya belajarnya.”
“Doni udah belajar sungguh-sungguh, bunda. Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang enggak pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda.” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis, “Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar.“
“Doni bukan anak ayah,” katanya dengan mata tertunduk. “Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda.“
Malamnya, adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan ke kamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku. “Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda..,” kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. "Bunda, temani Doni tidur ya," katanya sayup-sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian, ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Dia pun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir, juga laki laki dan dua tahun setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka di sekolah pintar-pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja,“ kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni ke pesantren. Aku tersentak.
“Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren?“
“Biar dia bisa dididik dengan benar.”
“Apakah di rumah dia tidak mendapatkan itu.”
“Ini sudah keputusanku, Titik."
“Tapi kenapa, Mas,” aKu berusaha ingin tahu alasan di balik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik-adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun, bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku. “Doni enggak mau jauh jauh dari bunda,” katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya, “Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup di bawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren.“
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang.” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMA. Ruli kelas 1 SMA dan Rini kelas 2 SMP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal di sekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat Tahajjud dan berdzikir sampai sholat Shubuh.
Kuperhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik-adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik-adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasah Aliyah, Doni kembali tinggal di rumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya.“ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Doni pun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid di perkampungan yang berada di belakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang ke rumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud di kakiku sambil berkata, “Doni tidak mencuri, Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berdzikir di malam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu, suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku. ”Bunda, Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni,“ pesannya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu per satu, “Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar.” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.
“Mas, Di mana Doni akan tinggal.“ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri."
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni, aku tahu dia baik-baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.“
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itu pula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi. Dan puncaknya, adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping-keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman-temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku di penjara dan anak-anak jadi bebanku di rumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Di tengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri di depan pintu rumah.
Doniku ada di depanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur ke dalam pelukanku. “Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah.“ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni di rumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja di luar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu dicemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap Maghrib dan Shubuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah di rumah. Seusai sholat berjama'ah Doni tak lupa duduk bersila di hadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus, beda sekali dengan gaya ayahnya.
“Manusia tidak dituntut untuk terhormat di hadapan manusia tapi di hadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita di dunia ini dibandingkan dengan Allah.“
“Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karena kita sudah sangat siap untuk pulang ke haribaan Allah dengan bersih.“
Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar, dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Dzikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Maha Suci Allah.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

The Owner

The Owner

About The Owner

Hi! I'm putri (line 96), a happy girl
with much dream at my brain. This is the place where I share a bit about
story of my life.
If you want to contact me, feel free to drop me a hay at putri3dk@gmail.com

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

My Recent Post

Hashtag

  • #2015
  • #2017
  • #2019
  • #jakarta

Postingan Populer

  • ERP di Perusahaan Indonesia
    Yuhuu anyyeong haseyo.. Akhir awali 2017 dengan topik ERP..sungguh kangen hati ini untuk berramah tamah dengan kalian tunggu update s...
  • EXAM SAP
    Helloo..Welcome back to my blog *sambil bayangin kak Suhay ngomong pas opening vlog ya hihi oke good people kali ini aku mau shar...
  • Penjadwalan Disk
    Penjadwalan Disk Salah satu tanggung jawab sistem operasi adalah menggunakan hardware dengan efisien. Khusus untuk disk drives, efisiensi ...
putri.kusiyanti. Diberdayakan oleh Blogger.

Visitor

website counter
Stats For Free

Followers

Created with by ThemeXpose